Tentu saja, seorang pria tidak seharusnya menikahi seorang wanita jikalau ia tidak
dan benar – benar secara murni mencintainya. Tetapi, buruknya, banyak pria yang tidak
pernah mempelajari arti sesungguhnya dari kata “cinta”. Pengertian mereka akan “cinta”
sering kali bercampur aduk dengan “nafsu” karena film – film murahan dan teladan yang
salah. Bagi kebanyakan dari mereka, “cinta” adalah keinginan seksual yang didasari atas
gairah nafsu binatang untuk “mendapatkan” kenikmatan dari lawan jenis. Sungguh suatu
hal yang sangat menyedihkan dan jauh dari kebenaran!
Jadi pengertian “cinta” bukanlah seperti itu karena cinta yang sejati tersebut
mencakup suatu usaha untuk memberi dan untuk berbagi rencana, harapan dan impian di
antara dua orang yang ingin membangun kehidupan bersama sampai kematian
memisahkan mereka. Dan jika mereka tidak dapat membicarakan sesuatu permasalahan
dan cara pemecahannya dengan baik, atau saling tersenyum dan berbagi sedikit
kesenangan, keintiman dan keterpautan bersama ketika cobaan kehidupan yang besar
datang maka akan hilanglah cinta mereka.
Rasul Paulus memerintahkan “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah
berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini
perlu kita ingat melihat beberapa suami sering membiarkan diri mereka dengan cepat
menjadi “pahit” karena istri mereka tidak memenuhi kriteria yang mereka inginkan, yaitu
sebagai seorang malaikat pujaan yang sempurna sesuai dengan imajinasi manusia
mereka!
Tetapi ketahuilah, bahwa seorang istri tidaklah pernah diciptakan untuk menjadi
seorang idola! Ia tidak pernah diciptakan untuk menjadi lebih sempurna dari suaminya di
dalam kehidupan ini! Ia juga tidak diperuntukkan untuk menjadi seseorang yang dapat
secara bersamaan memenuhi berbagai macam kategori sebagai seorang pengatur rumah,
seorang ibu, seorang teman dan seorang dewi seks Holywood yang serba sempurna!
Melainkan, wanita dirancang dan diciptakan oleh sang Pencipta kita semua untuk
menjadi buah hati, penolong dan sumber inspirasi bagi seorang pria yang berkeinginan
untuk membagikan apa yang ada di dalam dirinya dengan wanita tersebut, yaitu untuk
berbagi rencana – rencananya, harapan – harapannya dan impian – impiannya dengan
wanita tersebut. Pria yang menginginkan wanita untuk memberikan semangat dan
bimbingannya di dalam sikap percaya diri dan kasih! Untuk mengarahkan dan bukannya
mengendalikan rumah tangga!
Kita sering melihat di dalam masyarakat kita, khususnya di dalam dunia modern
kita, dimana kaum pria pada umumnya sering menyerahkan segala urusan yang
berhubungan dengan hal – hal rohani dan cara memimpin anak – anak untuk tertarik
kepada hal – hal yang berhubungan dengan Allah dan Jemaat kepada “kaum wanita yang
lemah” ini. Pahamilah bahwa hal ini tidaklah benar, dan seorang pria yang gagal
melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah ini sama dengan seorang pria yang
menjual hak lahiriahnya! Ketahuilah bahwa Allah sudah dari dulu sungguh – sungguh
menginginkan kaum pria untuk melaksanakan tanggung jawab mereka di dalam
kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menjadi pemimpin rohaniah di dalam
rumah tangga mereka masing - masing.
Perhatikan pernyataan yang dipimpin oleh Allah ini: “Tetapi aku mau, supaya
kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari
perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah” (1 Korintus 11:3 Alkitab
Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Setiap pria yang hidup memiliki kesempatan untuk menjadi wakil Allah secara
langsung atas rumah tangganya – di dalam mengajar, memberikan instruksi, pimpinan
dan inspirasi kepada istrinya dan anak – anaknya untuk mempelajari dan mematuhi kata –
kata di dalam Alkitab dan untuk menyembah dan melayani Allah yang menciptakan
mereka. Hampir kebanyakan istri dan anak – anak akan secara langsung dan gembira
menanggapi jika diberikan setengah kesempatan ini! Haruslah kaum pria menyadari hal
ini, mereka harus dapat memberikan suatu teladan yang dinamis dari rasa pengabdian
yang tinggi kepada Pencipta mereka dengan mempelajari firmanNya, memimpin doa baik
pada saat makan maupun pada saat doa keluarga. Mereka harus dapat melakukan hal –
hal ini sebaik ketika mereka melakukan doa pribadi dengan berlutut di dalam kamar tidur
atau ruang tempat pribadi lainnya.
Manusia seharusnya memberikan suatu teladan disiplin pribadi di dalam takut
akan Allah. Ia seharusnya dapat menunjukkan bahwa ia adalah cukup laki – laki dan
cukup kuat untuk mengalahkan nafsunya dan mengendalikan nafsunya. Dengan
mengalahkan kebiasaan merokok, mengendalikan nafsu minum dan lainnya, dengan
membatasi emosinya dan mengarahkan emosi dan nafsunya ke dalam saluran – saluran
yang benar, dengan mengontrol dan memperhatikan tutur katanya agar sesuai dengan
“hukum kebaikan”, maka ia dapat memberikan teladan yang tidak akan pernah dilupakan
oleh anak – anak laki – laki dan perempuannya ketika mereka tumbuh dewasa. Adalah
juga menjadi teladannya untuk memberikan penghormatan, pengagungan dan kasih akan
istrinya yang bijak dan peka.
Jadi jika anda benar – benar mempelajari Alkitab untuk melihat apa yang
dikatakan tentang pernikahan, dan jika dengan bantuan Allah anda berusaha untuk
mengikuti ajaran – ajaran, prinsip – prinsip, dan teladan – teladan Alkitab di dalam
pernikahan maka anda pun akan diberkati. Jika pasangan yang baru menikah mau
berlutut dan benar – benar mencari Allah untuk memimpin dan membimbing pernikahan
mereka dengan mempelajari firmanNya dan mengikutinya maka mereka akan memiliki
“sorga di bumi”, atau paling tidak itulah yang akan mereka alami di dalam pernikahan
mereka!
Mungkin hal ini akan mengejutkan mereka yang tidak mengenal jalan – jalan
Allah tetapi itulah kenyataannya. Saya telah melihat dengan nyata segala keindahan dan
berkat dari semua prinsip Allah yang dilakukan di dalam pernikahan, baik di dalam
pernikahan saya sendiri dan mereka yang percaya kepada Allah. Jadi jika kita melakukan
dengan benar apa yang diperintahkan oleh Allah tentang pernikahan maka segala prinsip
Allah tentang pernikahan itupun akan berfungsi dengan baik.
Hal ini memimpin kita kepada suatu kenyataan bahwa setiap orang dari kita patut
dan wajib untuk menjadikan Allah sebagai pusat dari pernikahan kita! Yaitu dengan
sepenuh hati mencari untuk menemukan kehendakNya di dalam setiap aspek pernikahan
anda dan kemudian mengikutinya!
dan benar – benar secara murni mencintainya. Tetapi, buruknya, banyak pria yang tidak
pernah mempelajari arti sesungguhnya dari kata “cinta”. Pengertian mereka akan “cinta”
sering kali bercampur aduk dengan “nafsu” karena film – film murahan dan teladan yang
salah. Bagi kebanyakan dari mereka, “cinta” adalah keinginan seksual yang didasari atas
gairah nafsu binatang untuk “mendapatkan” kenikmatan dari lawan jenis. Sungguh suatu
hal yang sangat menyedihkan dan jauh dari kebenaran!
Jadi pengertian “cinta” bukanlah seperti itu karena cinta yang sejati tersebut
mencakup suatu usaha untuk memberi dan untuk berbagi rencana, harapan dan impian di
antara dua orang yang ingin membangun kehidupan bersama sampai kematian
memisahkan mereka. Dan jika mereka tidak dapat membicarakan sesuatu permasalahan
dan cara pemecahannya dengan baik, atau saling tersenyum dan berbagi sedikit
kesenangan, keintiman dan keterpautan bersama ketika cobaan kehidupan yang besar
datang maka akan hilanglah cinta mereka.
Rasul Paulus memerintahkan “Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah
berlaku kasar terhadap dia.” (Kolose 3:19 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Hal ini
perlu kita ingat melihat beberapa suami sering membiarkan diri mereka dengan cepat
menjadi “pahit” karena istri mereka tidak memenuhi kriteria yang mereka inginkan, yaitu
sebagai seorang malaikat pujaan yang sempurna sesuai dengan imajinasi manusia
mereka!
Tetapi ketahuilah, bahwa seorang istri tidaklah pernah diciptakan untuk menjadi
seorang idola! Ia tidak pernah diciptakan untuk menjadi lebih sempurna dari suaminya di
dalam kehidupan ini! Ia juga tidak diperuntukkan untuk menjadi seseorang yang dapat
secara bersamaan memenuhi berbagai macam kategori sebagai seorang pengatur rumah,
seorang ibu, seorang teman dan seorang dewi seks Holywood yang serba sempurna!
Melainkan, wanita dirancang dan diciptakan oleh sang Pencipta kita semua untuk
menjadi buah hati, penolong dan sumber inspirasi bagi seorang pria yang berkeinginan
untuk membagikan apa yang ada di dalam dirinya dengan wanita tersebut, yaitu untuk
berbagi rencana – rencananya, harapan – harapannya dan impian – impiannya dengan
wanita tersebut. Pria yang menginginkan wanita untuk memberikan semangat dan
bimbingannya di dalam sikap percaya diri dan kasih! Untuk mengarahkan dan bukannya
mengendalikan rumah tangga!
Kita sering melihat di dalam masyarakat kita, khususnya di dalam dunia modern
kita, dimana kaum pria pada umumnya sering menyerahkan segala urusan yang
berhubungan dengan hal – hal rohani dan cara memimpin anak – anak untuk tertarik
kepada hal – hal yang berhubungan dengan Allah dan Jemaat kepada “kaum wanita yang
lemah” ini. Pahamilah bahwa hal ini tidaklah benar, dan seorang pria yang gagal
melakukan tanggung jawab yang diberikan oleh Allah ini sama dengan seorang pria yang
menjual hak lahiriahnya! Ketahuilah bahwa Allah sudah dari dulu sungguh – sungguh
menginginkan kaum pria untuk melaksanakan tanggung jawab mereka di dalam
kesempatan yang diberikan kepada mereka untuk menjadi pemimpin rohaniah di dalam
rumah tangga mereka masing - masing.
Perhatikan pernyataan yang dipimpin oleh Allah ini: “Tetapi aku mau, supaya
kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari
perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah” (1 Korintus 11:3 Alkitab
Terjemahan Baru © 1974 LAI).
Setiap pria yang hidup memiliki kesempatan untuk menjadi wakil Allah secara
langsung atas rumah tangganya – di dalam mengajar, memberikan instruksi, pimpinan
dan inspirasi kepada istrinya dan anak – anaknya untuk mempelajari dan mematuhi kata –
kata di dalam Alkitab dan untuk menyembah dan melayani Allah yang menciptakan
mereka. Hampir kebanyakan istri dan anak – anak akan secara langsung dan gembira
menanggapi jika diberikan setengah kesempatan ini! Haruslah kaum pria menyadari hal
ini, mereka harus dapat memberikan suatu teladan yang dinamis dari rasa pengabdian
yang tinggi kepada Pencipta mereka dengan mempelajari firmanNya, memimpin doa baik
pada saat makan maupun pada saat doa keluarga. Mereka harus dapat melakukan hal –
hal ini sebaik ketika mereka melakukan doa pribadi dengan berlutut di dalam kamar tidur
atau ruang tempat pribadi lainnya.
Manusia seharusnya memberikan suatu teladan disiplin pribadi di dalam takut
akan Allah. Ia seharusnya dapat menunjukkan bahwa ia adalah cukup laki – laki dan
cukup kuat untuk mengalahkan nafsunya dan mengendalikan nafsunya. Dengan
mengalahkan kebiasaan merokok, mengendalikan nafsu minum dan lainnya, dengan
membatasi emosinya dan mengarahkan emosi dan nafsunya ke dalam saluran – saluran
yang benar, dengan mengontrol dan memperhatikan tutur katanya agar sesuai dengan
“hukum kebaikan”, maka ia dapat memberikan teladan yang tidak akan pernah dilupakan
oleh anak – anak laki – laki dan perempuannya ketika mereka tumbuh dewasa. Adalah
juga menjadi teladannya untuk memberikan penghormatan, pengagungan dan kasih akan
istrinya yang bijak dan peka.
Jadi jika anda benar – benar mempelajari Alkitab untuk melihat apa yang
dikatakan tentang pernikahan, dan jika dengan bantuan Allah anda berusaha untuk
mengikuti ajaran – ajaran, prinsip – prinsip, dan teladan – teladan Alkitab di dalam
pernikahan maka anda pun akan diberkati. Jika pasangan yang baru menikah mau
berlutut dan benar – benar mencari Allah untuk memimpin dan membimbing pernikahan
mereka dengan mempelajari firmanNya dan mengikutinya maka mereka akan memiliki
“sorga di bumi”, atau paling tidak itulah yang akan mereka alami di dalam pernikahan
mereka!
Mungkin hal ini akan mengejutkan mereka yang tidak mengenal jalan – jalan
Allah tetapi itulah kenyataannya. Saya telah melihat dengan nyata segala keindahan dan
berkat dari semua prinsip Allah yang dilakukan di dalam pernikahan, baik di dalam
pernikahan saya sendiri dan mereka yang percaya kepada Allah. Jadi jika kita melakukan
dengan benar apa yang diperintahkan oleh Allah tentang pernikahan maka segala prinsip
Allah tentang pernikahan itupun akan berfungsi dengan baik.
Hal ini memimpin kita kepada suatu kenyataan bahwa setiap orang dari kita patut
dan wajib untuk menjadikan Allah sebagai pusat dari pernikahan kita! Yaitu dengan
sepenuh hati mencari untuk menemukan kehendakNya di dalam setiap aspek pernikahan
anda dan kemudian mengikutinya!

0 komentar:
Posting Komentar