Sungguh indah perkataan ini,"Mohon maaf lahir batin", dan kedua pihak mengatakan yang sama. Pintu maaf telah dibukakan, baik untuk hal yang lahir (terlihat) maupun hal di dalam batin (di dalam diri, hati, perasaan, pikiran). Kenapa perlu ada maaf? Mengapa ada dendam yang terpendam? Salah satunya karena adanya 'amarah'. Kemarahan yang digunakan untuk menyerang pihak yang lain akan menimbulkan pertengkaran dan dapat menimbulkan luka di hati.
Amarah dalam psikologi modern harus diekspresikan, bukan dipendam. Tetapi ekspresi marah, akan menimbulkan perselisihan yang bukan menunjukkan seseorang itu adalah manusia yang modern tapi seorang yang primitif (hukum rimba). Ada lagi pengajaran untuk memendam kemarahan, dan ini seperti kata pepatah,"kemarahan punya pelampung". Dia akan kembali muncul dalam bentuk yang lain, seperti rasa sungkan, rasa tidak suka, kebencian, kepahitan bahkan bisa menimbulkan kerusakan bagi organ tubuh (seperti kanker, gagal ginjal dsb). Dan jika kemarahan semakin bertumpuk dia akan muncul dalam bentuk yang sangat kejam, ingat nasehat ini,"Hati-hati dengan kemarahan orang sabar".
Jadi bagaimana untuk menangani marah? Amsal mengatakan, "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." 30:33 Kemarahan memang bukan untuk disembunyikan, tapi juga bukan untuk digunakan untuk menyakiti sesama. "Orang bijaksana dapat menahan amarah, tetapi orang bodoh mengumbarnya." 14:29 Hanya orang bodoh (primitif, tidak beradab) yang mengumbar/membiarkan keluar amarahnya.
Mari kita kupas 2 cara untuk menangani 'Amarah':
Pertama -- "Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan." 14:29
Caranya adalah dengan "memperbesar pengertian". Ada metode mengatasi marah dengan menghitung sampai 10, tapi ada metode yang lebih baik lagi, yaitu cari pengertian sampai 10 sebelum marah. Contohnya, sewaktu Anda mengemudi, ada seorang yang menyalip mobil dengan tiba-tiba, kemudian segera tancap gas. Reaksi yang pertama adalah berusaha mengerti mengapa dia mengemudi mobil seperti itu, pengertian yang dibangun: mungkin istrinya sedang mau melahirkan, mungkin anaknya sedang sakit keras dan butuh pertolongan secepatnya, mungkin juga rumahnya kebakaran dlsb. Ini akan membangun pengertian kita dan menghindari kemarahan.
Kedua -- "JAWABAN yang lembut meniadakan kemarahan, tetapi kata-kata yang kasar menimbulkan pertengkaran." 15:1 Ternyata perkataan yang lembut melenyapkan kemarahan…. Bayangkan seorang yang sedang berbicara dengan nada tinggi, kemudian selalu dijawab dengan lembut, lama kelamaan dia akan menyamakan nada-nya dengan lawan bicaranya. Kemudian dengan lembut, bangun pengertian seperti pada langkah pertama.
Sehingga amarah yang timbul akan berangsur-angsur reda.
Salam Hangat dari Yoye brother
"T4n4mkanlah k4ta-kat4 yang penuh kasih dalam kehidupan seseorang. Peliharalah dengan senyum4n dan doa, lalu lihatlah 4pa yang terj4di"
Jumat, 17 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar