Ada fenomena yang aneh terjadi di sini, sewaktu terjadi kecelakaan mobil dengan motor, maka orang-orang akan menyalahkan si pengendara mobil sebagai biang keladinya. Dan jika terjadi tabrakan antara motor dan sepeda, kecenderungan orang akan menganggap kesalahan pada pengendara motor. Ada juga salah satu aktivitis masalah kemiskinan yang selalu membela orang miskin, tidak peduli apa keadaan yang sebenarnya terjadi.
Jadi mana yang mestinya dibela, orang miskin (wong cilik, kaum yang lemah) atau orang kaya (pejabat, orang berpengaruh, konglomerat)? "Mengadili orang secara memihak, yaitu menghukum yang miskin dan membebaskan yang kaya, adalah salah.
Orang yang membenarkan orang jahat dan berkata kepadanya, "Engkau tidak bersalah," akan dikutuk oleh banyak orang dan dibenci oleh banyak bangsa; tetapi berkat yang limpah akan dicurahkan ke atas orang yang tidak takut menegor dosa"
Kebenaran yang pertama:
"Keadilan harusnya tidak memihak"
Saya ingat dalam suatu kisah peperangan, datanglah seorang Malaikat yang berpakaian perang, panglima perang bertanya kepadanya, apakah dia berpihak kepadanya atau kepada lawan.
Malaikat tidak menjawab, karena memang dia tidak berpihak kemana pun. Seandainya si panglima perang tidak adil, dia akan menjadi lawannya, demikian pula sebaliknya. Belalah orang kaya karena dia benar, bukan karena dia kaya. Hukumlah orang miskin karena dia salah, bukan karena dia miskin.
Kebenaran yang kedua:
"Kebenaran akan muncul dan berbicara dengan kuat"
Walaupun orang kaya berhasil dimenangkan dalam suatu perkara, jika memang dia tidak benar, maka gaung yang menuntut keadilan akan berbunyi di masyarakat, bahkan ke seluruh bangsa.
Jadi kesimpulannya, belalah keadilan dan kebenaran di atas status sosial apapun. Miskin dan kaya, tidak ada relevansinya dengan kebenaran. (OBS)
Salam Hangat dari Yoye brother
"T4n4mkanlah k4ta-kat4 yang penuh kasih dalam kehidupan seseorang. Peliharalah dengan senyum4n dan doa, lalu lihatlah 4pa yang terj4di"
Jumat, 17 Juli 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar