Langkah 1. Kerja Keras
“Kekayaan yang diperoleh dari perjudian akan segera lenyap, tetapi kekayaan hasil kerja keras akan bertambah-tambah.” 10:22
“Kerja keras membawa kemakmuran; hanya orang bodohlah yang membuang-buang waktu.” 12:11
Kecenderungan orang yang sudah mapan adalah merasa tidak lagi perlu bekerja keras. Mengurangi disiplin yang dulu dilakukan dalam mencapai apa yang sudah dicapai sekarang. Tetapi seperti kata pepatah, ”kekayaan cepat lenyap”, tanpa kerja keras, kekayaan akan segera pergi. Saya teringat mengenai pabrik mobil Ford yang setelah merasa mapan dengan fasilitas produksi massal mobilnya, tidak berusaha melakukan inovasi dalam produk mobil yang diproduksi. Maka muncul-lah pesaing-pesaing baru yang merebut pangsa pasarnya. Tidak ada kata istirahat dalam peperangan, maksudnya jangan pernah berhenti bertumbuh ke arah yang lebih baik.
Langkah 2. Persiapkan Regenerasi
“Ajarlah seorang anak untuk memilih jalan yang benar, maka setelah dewasa ia akan tetap berada di jalan itu.” 22:6
Setelah kerja keras dilakukan, dan kekayaan berhasil didapat dan kini tiba saatnya anak atau penerus kita akan mengambil alih pimpinan. Proses ini cukup sukar dan banyak orang kaya yang gagal dalam melakukannya. Anak yang tidak dilatih orang tuanya sejak dini, akan kesulitan untuk menempuh jalan yang sudah dilalui orang tuanya. Demikian juga dalam perusahaan, jika seorang penerus tidak dibekali kemampuan oleh si pemimpin, maka jangan harapkan perusahaan itu akan bertumbuh lebih maju.
Kekayaan tetap terjadi kalau kita berhasil dalam me-mentor penerus kita, sehingga dia akan menjadi sama kuat seperti kita, bahkan lebih hebat dari kita. Seorang Mentor yang paling hebat berkata seperti ini kepada murid-murid-Nya,”Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan melakukan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu.” Mentoring yang Dia lakukan sudah memberikan keyakinan dalam hati, bahwa generasi bimbingannya akan mampu menjadi seperti Dia bahkan lebih lagi.
Langkah 3. Prinsip Cangkir
Ada satu orang dalam kitab Amsal yang menurut saya cukup aneh mengucapkan kata-kata ini,” Ya Allah, ada dua permohonan yang ingin kuajukan kepada-Mu sebelum ajalku sampai……. Kedua, janganlah memberi aku kemiskinan atau kekayaan! Berilah aku sekadar cukup untuk memenuhi keperluanku!” 30:7
Dia tidak minta kekayaan juga tidak minta kemiskinan, alasannya,” Karena, jika aku menjadi kaya, mungkin aku akan merasa puas tanpa Allah. Dan jika aku terlalu miskin, mungkin aku akan mencuri, dan dengan demikian menghina nama Allah yang kudus.” 30:8
Prinsip ini dapat dijelaskan dengan jelas melalui cangkir yang dituangi air teh, setiap teh yang masuk ke cangkir memang jatah kita untuk meminumnya, tetapi setiap kelebihan yang tumpah keluar, memang bukan jatah kita lagi. Prinsip ini mengajarkan tentang Gaya Hidup atau life style, tidak ada yang salah menjadi kaya, tetapi sebetulnya kita harus memiliki garis batas (dalam hal ini cangkir) yang menyatakan bahwa itu cukup, di luar itu kita namakan foya-foya. Setelah kita tahu batas ‘cangkir’ kita, kita tidak akan pernah mengalami masalah mengenai kaya atau miskin, karena tidak akan ada perubahan yang berarti dalam kehidupan kita entah kita kaya atau miskin. Gaya hidup kita tidak berubah, sesuai dengan sebesar cangkir yang kita minum seperti prinsip cangkir tersebut.
Oke sampai di sini dulu, “Sekali Kaya, Tetap Kaya!” (OBS)
* Leave a comment... (9)
Lepas dari Belenggu Kartu Kredit
Posted on Nopember 5th, 2008 in Kaya by ongbudi Tagged Kaya
Gambaran seorang yang memakai kartu kredit untuk memuaskan keinginannya digambarkan secara jelas oleh Amsal:“Ada orang yang berlagak kaya, tetapi tidak mempunyai apa-apa, ada pula yang berpura-pura miskin, tetapi hartanya banyak.” 13:7 Beberapa hari yang lalu saya lihat Pak Ci (Ir. Ciputra) di Kick Andy – MetroTV, saya ingat pada tahun 1998 pernah bertemu beliau dalam sebuah seminar,dia berbicara,” Saudara lebih kaya daripada saya, karena hutang saya melebihi semua asset yang saya milikki”. Jadi sebetulnya dia tidak memiliki apa-apa lagi.
Hal mendasar yang perlu dibenahi dalam masalah pengaturan keuangan adalah penguasaan diri. “Orang yang tidak dapat menguasai diri sama tidak berdayanya seperti kota yang sudah roboh tembok-temboknya.” 25:28 Apabila kita tidak dapat hidup dengan penghasilan kita, maka setelah beberapa lama, penghasilan kita tidak akan cukup untuk menutupi semua kebutuhan.
Langkah pertama jika sudah terbelenggu kartu kredit adalah lepaskan diri segera. Nasihat Amsal,” Lepaskanlah dirimu dari jerat itu secepat-cepatnya. Telanlah kesombonganmu; jangan sekali-kali membiarkan perasaan malu menjadi penghalang. Pergilah dan minta supaya namamu ditarik kembali. Jangan menunda-nunda; lakukanlah sekarang juga. Jangan beristirahat sebelum engkau membereskannya.” 6:3-4Tutup semua kartu kredit, hubungi penyelenggara kartu kredit untuk melakukan negosiasi mengenai waktu pelunasannya. Jangan menunda-nunda, jangan merasa malu, kerjakan dengan seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Langkah kedua, buat anggaran belanja selama satu tahun. Tuliskan semua pengeluaran yang diperlukan selama satu tahun secara detail untuk mengetahui seberapa besar pengeluaran kita. Jika memang pengeluaran untuk kebutuhan kita melebihi jumlah penghasilan kita, ini saat-nya untuk mencari penghasilan tambahan. Bisa dengan melakukan pekerjaan part-time atau mencari peluang bisnis baru.
Dengan memiliki anggaran belanja juga dapat menjadi acuan untuk membatasi pembelian yang tidak perlu (keinginan-keingiann lain yang bukan kebutuhan utama). Terapkan disiplin anggaran secara ketat.
Lakukan kedua langkah itu dan kita akan terlepas dari jerat kartu kredit. Tetapi bagaimana jika ada teman kita yang terjerat kartu kredit meminta tolong kepada kita? Jawabannya adalah, tidak perlu ditolong. Masalah penguasaan diri terletak dalam diri masing-masing orang — tidak ada yang dapat dilakukan untuk mengubahnya, selain dirinya sendirilah yang harus berusaha mengubahnya. Mungkin kita bisa bantu dalam hal mendasar seperti menyumbang beras, uang sekolah anak, tetapi untuk membayar hutang kartu kredit bukan tanggung jawab Anda dan saya. (amsal klub.com)

0 komentar:
Posting Komentar