Salam Hangat dari Yoye brother

"T4n4mkanlah k4ta-kat4 yang penuh kasih dalam kehidupan seseorang. Peliharalah dengan senyum4n dan doa, lalu lihatlah 4pa yang terj4di"

Senin, 06 Juli 2009

Kunci UntukMengubah Hidup Anda

Alkitab telah banyak mencatat tentang kisah perubahan hidup para manusia yang

sangat dramatis. Sesungguhnya bagaimanakah mereka dapat membuat suatu

“perubahan” total di dalam kehidupan mereka tersebut? Dan apakah mungkin bagi anda

untuk membuat suatu perubahan yang cukup besar di dalam kehidupan anda? Ingatlah

bahwa sebenarnya terdapat dua kunci vital yang sering disia – siakan orang. Bahkan tidak

jarang dari mereka yang telah mengetahuinya justru malah mensalah artikannya. Mereka

tidak tahu peranan penting dari dua kunci vital tersebut.

Di dalam Kisah Para Rasul 2 kita akan membaca kejadian – kejadian yang terjadi

disekitar masa permulaan jemaat Wasiat Baru. Simon Petrus memberikan khotbah yang

sangat lantang dan tajam kepada ribuan orang yang berkerumun untuk merayakan Masa

Raya Pentakosta. Beberapa dari orang – orang tersebut adalah mereka yang pada tujuh

setengah minggu sebelumnya berdiri di tengah gerombolan orang banyak yang memadati

Bangsal Pengadilan Pilatus. Pada saat itu mereka berteriak “Salibkan Dia!” ketika Pilatus

menawarkan untuk membebaskan Yesus dari Nazaret. Sekarang, PERCAYA akan

kebenaran dari pesan Petrus, mereka merasa bersalah dengan sangat atas apa yang telah

dilakukan oleh mereka. Hal ini adalah suatu perasaan mendalam akan rasa “malu” dan

“bersalah”, yang mana kemudian mereka dengan rendah hati bertanya kepada Petrus:

“Apakah yang harus kami lakukan?” (Kisah Para Rasul 2:36-39 Alkitab Terjemahan

Baru © 1974 LAI). Ia menjawab mereka dengan mengatakan bahwa mereka harus

BERTOBAT. Iman dan pertobatan adalah kunci vital yang mana tanpanya maka tidaklah

mungkin kita akan mengalami sesuatu perubahan yang nyata.

Iman adalah penting bagi tahapan pertobatan. Iman yang kita bicarakan disini

adalah iman yang hidup dan nyata. Iman seperti ini akan memimpin seorang manusia

untuk memiliki suatu pikiran dan keinginan yang mantap untuk membuat suatu

keputusan kembali kepada Allah. Dengan iman seperti ini, seorang manusia akan sangat

percaya kepada Allah yang NYATA dan di dalam janji – janji yang Ia buat yang

tercermin di dalam tindakan! “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada

hakekatnya adalah mati.” (Yakobus 2:17 Alkitab Terjemahan Baru © 1974 LAI). Jika

kita benar – benar percaya dan bergantung kepada Allah maka Ia akan dapat membuat

diri kita untuk secara benar – benar dan tanpa persyaratan menyerahkan diri kepadaNya.

Ibrani 11 sering disebut sebagai “bab iman” di dalam Alkitab. Di dalam Ibrani

11:13 kita mempelajari bahwa orang – orang beriman baik itu wanita maupun pria

MELAKUKAN beberapa hal yang pasti. Yang mana dengan memahami apa yang

dilakukan oleh para orang beriman tersebut maka kita akan mendapatkan suatu

pemahaman akan iman yang dapat mengubah kehidupan seorang manusia. Kita

diberitahukan bahwa mereka “Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orangorang

yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh

melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah

orang asing dan pendatang di bumi ini.”

Pertama, kita harus melihat dan memahami janji – janji yang Allah buat, yang

diyakinkan oleh baik nilai – nilai dan nyatanya janji – janji tersebut. Dan setelahnya kita

harus berusaha mendapatkan dan mempertahankannya baik – baik. Ketahuilah bahwa

amatlah penting dan tak ternilai bagi kita untuk memiliki dan mempertahankan janji –

janji Allah tersebut. Jika kita tidak menghargai dan bersenang akan apa yang ditawarkan oleh Allah, maka kita tidak akan dapat bertahan dan bersabar ketika kita harus melalui

banyak masa – masa yang naik dan turun di dalam kehidupan kita. Karena para orang

beriman yang disebutkan di dalam Ibrani 11 tersebut, baik mereka yang laki – laki

maupun wanita, telah mendekap dan mempertahankan dengan baik – baik apa yang telah

Allah janjikan. Mereka telah menunjukkan dengan kata – kata dan tindakan bahwa

mereka tidak dapat menjadi bagian dari dunia ini.

Kita tidak dapat menjadi serupa dengan dunia ini dan pada saat yang bersamaan

berkeinginan untuk dapat berjalan bersama dengan Allah (Yakobus 4:4). Karena untuk

menjadi serupa dengan dunia ini, maka seseorang pastilah harus terlebih dahulu

memahami nilai – nilai dari dunia tersebut serta menerimanya di dalam kehidupan

mereka. Yohanes menyimpulkan nilai – nilai dari dunia ini didalam “Sebab semua yang

ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup,

bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.” (1 Yohanes 2:16 Alkitab Terjemahan

Baru © 1974 LAI). Ingatlah bahwa zaman ini beserta segala kebobrokan dan

kemerosotan nilai – nilai yang ada didalamnya sudah pasti akan berlalu. Yang mana

kemudian akan digantikan dengan dunia yang baru yang akan datang berdasarkan nilai –

nilai abadi. Dunia yang baru tersebut, dunia yang akan datang, akanlah menjadi dunia

yang permanen.

Oleh karenanya jika kita benar – benar percaya akan janji Allah mengenai dunia

yang akan datang tersebut maka kita akan berkeinginan untuk kembali kepada Allah

dengan segenap hati kita serta mempelajari tentang bagaimanakah kita bisa tinggal di

dalam keharmonisan dengan diriNya untuk selama - lamanya. Iman yang hidup akan

menghasilkan tindakan yang salah satunya adalah pertobatan yang sejati dari seorang

manusia yang memiliki iman tersebut. Hal ini pulalah yang dialami oleh para pendengar

Petrus ketika mereka bertanya: “apakah yang harus kita lakukan?”. Sungguh orang –

orang tersebut tanpa berkompromi telah menawarkan suatu tindakan yang sangat ingin

mereka lakukan tanpa membatasi diri mereka untuk melakukannya. Mereka juga tidak

mulai menyalahkan yang lain, justru sebaliknya mereka datang di dalam kesederhanaan

dan sikap yang dapat diajar dan bahkan penyerahan diri di dalam hati dan pikiran. Pada

saat itu Petrus mewartakan Injil dan mereka percaya akan pesannya. Mereka telah

membuktikan dan menemukan iman ketika mereka dari dalam lubuk hati berkeinginan

untuk melakukan suatu tindakan berdasarkan iman tersebut. Dan oleh karenanya maka

pada hari itu mereka menanyakan suatu pertanyaan, “apakah yang harus kami lakukan?”.

Sesungguhnya suatu pertanyaan yang samalah yang harus kita pertanyakan jika kita

memang berkeinginan untuk mendapatkan suatu perubahan hidup yang dramatis.

0 komentar:

Posting Komentar