Salam Hangat dari Yoye brother

"T4n4mkanlah k4ta-kat4 yang penuh kasih dalam kehidupan seseorang. Peliharalah dengan senyum4n dan doa, lalu lihatlah 4pa yang terj4di"

Kamis, 16 Juli 2009

suami-suami takut istri VS istri-istri takut suami

  Imlek kemarin, kami sekeluarga mengunjungi keluarga besar saya, sesuai dengan tradisi dari tanah leluhur. Sore harinya, Papa menyalakan tv dan ternyata keluarga di sana senang dengan sinetron “Suami-suami Takut Istri”. Apa yang membuatnya begitu menarik? Ternyata sinetron ini berbicara tentang masalah-masalah seputar kehidupan rumah tangga. Saya terkejut dengan fenomena ini, setelah saya selidiki ternyata memang banyak keluarga yang suami-suaminya takut dengan istri-nya. 

  Di lain kesempatan, saya berbicara dengan seorang suami yang menunjukkan brosur perumahan. Ketika saya tanyakan yang mana rencananya akan dipilih, dia malah seperti kebingungan dan minta istri-nya untuk menjelaskannya. Siapa pemimpin dalam rumah tangga tsb? 

  Setelah dikhianati oleh istri mudanya, si suami kembali ke istri masa mudanya dan dengan santainya menceritakan bahwa istri mudanya telah menyeleweng dan dia sudah putus hubungan dengannya. Istri tua, dengan gaya layaknya seorang ibu menasehati kepada suaminya bahwa nyeleweng itu tidak baik. Bukankah seharusnya istri menghadapi suaminya yang menyeleweng selayaknya seorang istri yang punya wewenang untuk memarahi suaminya. Apa ini salah satu tipe “Istri-istri Takut Suami”? 

  Hubungan suami-istri yang dilandasi oleh rasa takut memang bukan hubungan yang ideal. Jadi bagaimana seharusnya hubungan itu dilandasi? 
Ada 3 landasan yang kita akan bahas di sini:

1. Sikap Hati yang Benar.
Amsal berkata,” ORANG jahat lari walaupun tidak ada yang mengejar! Tetapi orang benar berani seperti singa!”. Kisah ketakutan pertama dalam kehidupan adalah sewaktu Adam & Hawa bersembunyi setelah melanggar perintah Tuhan. Kesalahan yang disembunyikan, menimbulkan ketakutan dalam hati. 

  Keterbukaan membuka jalan untuk terjalinnya suatu hubungan. Pemulihan suatu hubungan dimulai melalui sikap hati yang benar, yang mau mengakui setiap kelemahan & kesalahan yang bisa timbul. Kalau hati kita benar, tidak ada yang perlu ditakutkan. Dengan kata lain, kita memiliki hati yang berani seperti singa.

2. Saling Menghormati
Tepa salira, sikap tenggang rasa dan menjaga perasaan orang lain, itulah maksud saling menghormati. Masing-masing pihak menganggap pihak yang lain sebagai pihak yang lebih utama. Pendeknya, “Saya orang penting, Anda orang penting.” Itulah yang harusnya tertanam di benak masing-masing pihak. 

  3. Hukum Kasih
Penerapan hukum kasih menjadi pondasi yang paling kuat dalam relasi suami istri. Apa itu kasih. Penjabaran paling lengkap mengenai kasih adalah seperti ini: Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 

Atau dengan ringkas ditulis dengan satu kalimat, ”Kasihilah sesamamu, seperti dirimu sendiri.” Seperti engkau ingin diperlakukan, perlakukan sedemikian kepada orang lain. Inilah prinsip yang paling utama dalam membangun hubungan.

  Dengan melandasi hubungan suami-istri lewat 3 hal di atas, akan menghasilkan hubungan yang sehat, penuh hormat dan dipenuhi suasana kasih. Ini seperti menciptakan surga di bumi. SSTI & IITS akan berubah menjadi SSSI & IISS (Suami-suami Sayang Istri dan Istri-istri Sayang Suami).

0 komentar:

Posting Komentar