Salam Hangat dari Yoye brother

"T4n4mkanlah k4ta-kat4 yang penuh kasih dalam kehidupan seseorang. Peliharalah dengan senyum4n dan doa, lalu lihatlah 4pa yang terj4di"

Senin, 29 Juni 2009

Rautan Meja K4yu

Suatu ketika, ada seorang kakek yang harus tinggal dengan anaknya. 
 Selain  itu, tinggal pula menantu, dan anak mereka yang berusia 6 tahun. 
Tangan orangtua ini begitu rapuh, dan sering bergerak tak menentu. 
 Penglihatannya buram, dan cara berjalannya pun ringkih. 
 Keluarga itu biasa makan bersama di ruang makan. Namun, sang 
 orangtua yang pikun ini sering mengacaukan segalanya. Tangannya yang bergetar dan 
matayang rabun, membuatnya susah untuk menyantap makanan. Sendok dan 
 garpu kera jatuh Ke bawah. 
Saat si kakek meraih gelas, segera saja susu itu tumpah membasahi taplak. 
Anak dan menantunya pun menjadi gusar. Mereka merasa direpotkan 
dengan semua  ini. "Kita harus lakukan sesuatu," ujar sang suami. "Aku sudah bosan 
 membereskan semuanya untuk pak tua ini Lalu, kedua suami-istri ini pun membuatkan sebuah meja kecil di sudut ruangan. Di sana, sang kakek akan duduk untuk makan sendirian, saat 
semuanya  menyantap makanan. Karena sering memecahkan piring, keduanya juga 
 memberikan mangkuk kayu untuk si kakek. 
 Sering saat keluarga itu sibuk dengan makan malam mereka, terdengar isak sedih dari sudut ruangan. Ada airmata yang tampak mengalir dari gurat  keriput si kakek. Meski tak ada gugatan darinya. Tiap kali nasi yang  dia  suap, selalu ditetesi air mata yang jatuh dari sisi pipinya. Namun,  kata  yang keluar dari suami-istri ini selalu omelan agar ia tak menjatuhkan 
 makanan lagi. 
 Anak mereka yang berusia 6 tahun memandangi semua dalam diam. Suatu 
 malam,  sebelum tidur, sang ayah memperhatikan anaknya yang sedang memainkan 
 mainan  kayu. Dengan lembut ditanyalah anak itu. "Kamu sedang membuat apa?". 
Anaknya menjawab, "Aku sedang membuat meja kayu buat ayah dan ibu, 
 untuk  makan saatku besar nanti. Nanti, akan kuletakkan di sudut itu, dekat  tempat 
 kakek biasa makan." Anak itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.
 Jawaban itu membuat kedua orangtuanya begitu sedih dan terpukul. 
 Mereka tak  mampu berkata-kata lagi. Lalu, airmatapun mulai bergulir dari kedua 
 pipi  mereka. Walau tak ada kata-kata yang terucap, kedua orangtua ini  mengerti, 
ada sesuatu yang harus diperbaiki.
 Mereka makan bersama di meja makan. Tak ada lagi omelan yang keluar saat ada 
 piring yang jatuh, makanan yang tumpah atau taplak yang ternoda.  Kini, 
 mereka bisa makan bersama lagi di meja utama. Dan anak itu, tak lagi  meraut 
untuk membuat meja kayu. Sahabat, anak-anak adalah persepsi dari kita. Mata mereka akan selalu mengamati, telinga mereka akan selalu menyimak, dan pikiran mereka  akan  selalu mencerna setiap hal yang kita lakukan. 
 Mereka adalah peniru. Jika mereka melihat kita memperlakukan orang 
lain dengan sopan, hal itu pula yang akan dilakukan oleh mereka saat 
dewasa  kelak. Orangtua yang bijak, akan selalu menyadari, setiap "bangunan 
 jiwa"yang disusun, adalah pondasi yang kekal buat masa depan anak-anak. 
 Mari, susunlah bangunan itu dengan bijak. Untuk anak-anak kita,  untuk masa 
 depan kita, untuk semuanya. Sebab, untuk merekalah kita akan selalu  belajar, 
 bahwa berbuat baik pada orang lain, adalah sama halnya dengan  tabungan masa  depan. 

Jika anak hidup dalam kritik, ia belajar mengutuk. 
Jika anak hidup dalam kekerasan, ia belajar berkelahi. 
Jika anak hidup dalam pembodohan, ia belajar jadi pemalu. 
 Jika anak hidup dalam rasa dipermalukan, ia belajar terus merasa bersalah. 
Jika anak hidup dalam toleransi, ia belajar menjadi sabar. 
 Jika anak hidup dalam dorongan, ia belajar menjadi percaya diri. 
  Jika anak hidup dalam penghargaan, ia belajar mengapresiasi. 
 Jika anak hidup dalam rasa adil, ia belajar keadilan. 
 Jika anak hidup dalam rasa aman, ia belajar yakin. 
 Jika anak hidup dalam persetujuan, ia belajar menghargai diri  sendiri. 
 Jika anak hidup dalam rasa diterima dan persahabatan, ia belajar 
 mencari  cinta di seluruh dunia. 
 
 Betapa terlihat di sini peran orang tua sangat penting karena mereka 
 diistilahkan oleh Khalil Gibran sebagai busur kokoh yang dapat 
melesatkan  anak-anak dalam menapaki jalan masa depannya. Tentu hari ini harus  lebih 
baik dari hari kemarin, dan esok harus lebih baik dari hari ini dan tentu 
kita selalu berharap generasi yang akan datang harus lebih baik dari  kita....

0 komentar:

Posting Komentar